Hengkang Dari NasDem Rusdi Masse Bakal Gabung PSI, Peta Politik Sulsel Akankah Berubah ?

MAKASSAR | Karyanesia.com — Dinamika politik di Sulawesi Selatan (Sulsel) diprediksi akan mengalami perubahan signifikan, khususnya pemilihan umum (pemilu) dan pemilihan kepala daerah (pilkada) pada momen politik tahun 2029/2030 mendatang.

Hal ini mengingat politisi senior Sulawesi Selatan, dan selaku Ketua DPW Nasdem Sulawesi Selatan (Sulsel) Rusdi Masse Mappasessu (RMS), dibenarkan mengundurkan diri dari Partai NasDem dan dugaan kuat, akan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Kebenaran mundurnya RMS dari Partai NasDem, dibenarkan Bendahara Umum Partai Nasdem Ahmad Sahroni, saat di konfiemasi membenarkan surat pengunduran Rusdi Masse sudah diterima oleh pengurus pusat Nasdem.

“Benar, surat sudah di DPP Nasdem,”Ucap Ahmad Sahroni singkat.

Melansir laman resmi Fraksi Nasdem di DPR, Rusdi Masse tercatat telah terpilih sebagai anggota sejak periode 2019-2024. Artinya, saat ini menjadi periode keduanya duduk sebagai wakil rakyat di Senayan.

Rusdi Masse sendiri merupakan Wakil Ketua Komisi III DPR-RI Fraksi NasDem yang pada Pileg 2024, lalu, RMS sapaan akrabnya meraih 161.301 suara, disusul Eva Stevany Rataba,S.H (Istri Wakil Bupati Toraja Utara periode 2016–2021) dengan perolehan 73.910 suara.

Lalu, ada sosok ​Eks Calon Walikota Palopo, Putri Dakka 53.700 suara, disusul Aslam Patonangi 43.580 suara, Hayarna Basmin 29.162 suara, HM Judas Amir 12.669 suara, dan Nicodemus Biringkanae (Eks. Bupati Tana Toraja periode 2016—2021) dengan perolehan 4.908 suara. Partai NasDem pada momentum Pileg 2024 lalu, mampu meloloskan dua kader di Dapil III Sulsel dan menggeser jumlah ketenaran suara Partai Golkar.

Dengan perolehan suara itu, Rusdi Masse dengan perolehan suara tertinggi 161.301 dan Eva Stevany Rataba dengan 73.910 suara, merupakan wakil rakyat yang sama-sama berada di kursi DPR RI mewakili wilayah Enrekang, Luwu Raya, Toraja, Pinrang, Sidrap, dan Kota Palopo.

Dilansir berabagai sumber, Rusdi Masse yang akrab disapa RMS, bukan wajah baru di belantika politik Indonesia, khususnya di Wialayah Timur Nusantara. Ia mengawali karier politiknya sebagai anggota DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) periode 2004-2009.

Dimana ditengah masa jabatan legislatif daerah, Rusdi Masse maju dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan terpilih pada 2008. Kala itu, Rusdi tercatat sebagai bupati termuda di Indonesia ketika berusia 35 tahun.

Berdasarkan catatan, Rusdi berhasil mengemban jabatan sebagai Bupati Sideap Selama dua periode 2008 – 2013 dan 2013 – 2018. Ia juga sempat berpindah haluan dari Partai Bintang Reformasi (PBR) ke Golkar pada 2010. Usai dari Golkar, Rusdi Masse kemudian loncat ke Nasdem.

Dimana saat itu, suatu kebanggaan oleh Ketua Umum NasDem Surya Paloh memilih Rusdi Masse sebagai Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan. Rusdi Masse dilantik sebagai pengurus DPP pada Kongres II Partai NasDem di Jakarta, 11 November 2019. Ia juga berhasil masuk dalam kontestasi pemilihan legislatif dan menembus Senayan pada Pemilu 2019.

Maka dengan munduenya Rusdi Masse dari NasDem yang berasal dari Sidrap (Sulsel) maka tentu dia akan digantikan sebagai anggota DPR RI.

Berbagai tanggapan kabar mundurnya Rusdi Masse Mappasessu (RMS) dari Partai NasDem dinilai dapat memicu perubahan signifikan dalam peta kekuatan politik Sulawesi Selatan (Sulsel). Hal tersebut disampaikan Dedi Alamsyah, mengutip program Ngobrol Politik (Ngopi) Tribun Timur, pada Rabu (21/1/2206).

Pengamat politik menilai, RMS selama ini merupakan figur kunci yang menggerakkan mesin politik NasDem di daerah, sehingga kepergiannya berpotensi melemahkan konsolidasi dan daya mobilisasi partai.

Di sisi lain, jika RMS benar-benar bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), langkah ini dinilai bisa menjadi akselerator elektoral bagi PSI di Sulsel. Kehadiran RMS disebut mampu memperkuat struktur, meningkatkan legitimasi politik lokal, serta membuka peluang baru dalam kontestasi legislatif dan pilkada di berbagai daerah.

“Kalau RMS pindah, jangan bayangkan dia pindah sendirian. Ada gerbong besar di belakangnya. Loyalitas kader di daerah itu ke orang, bukan ke logo partai. Kalau komandannya pindah, mereka bisa ikut pindah,” tegasnya.

Ia menyebut daerah Ajatappareng sebagai salah satu wilayah yang paling berpotensi mengalami eksodus kader jika RMS benar-benar hengkang.

Setidaknya ada tiga dampak utama yang mungkin terjadi. Pertama, prestasi NasDem Sulsel yang dibangun selama kepemimpinan RMS bisa terancam runtuh. Sebab dibawah RMS, NasDem untuk pertama kalinya menyalip dominasi Golkar di Sulsel pada Pemilu 2024, khususnya di daerah pemilihan IX seperti Sidrap, Pinrang, dan Enrekang. [AG/RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *