JAKARTA | Karyanesia.com — Menghidupkan kembali pangan lokal adalah kunci ketahanan sekaligus kedaulatan pangan nasional. Pangan lokal bukan hanya soal kedaulatan, tapi juga tentang kualitas nutrisi yang seringkali lebih segar dan alami dibandingkan produk olahan pabrik.
Oleh sebabnya, pada tahun ini, dalam rangka Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 yang jatuh tepat pada 25 Januari 2026 bukan saja menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa investasi terbaik untuk masa depan adalah kesehatan, namun mengajak masyarakat untuk kembali melirik potensi hasil bumi di sekitar mereka.
Demikian gerakan ini digencarkan oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) melalui kampanye nasional mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dengan slogan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, “Sehat Dimulai dari Piringku”.
Pesan ini sebagai bentuk penguatan pangan lokal Nusantara yang kembali berfokus pada diversifikasi konsumsi berbasis sumber daya daerah—seperti sagu, jagung, umbi-umbian, dan sorgum—untuk mengurangi ketergantungan pada beras.
Kebijakan ini, didukung Perpres 81/2024 dan dana desa 2025, bertujuan meningkatkan gizi, kemandirian pangan, serta ekonomi lokal melalui UMKM dan teknologi.
Dimana percepatan diversifikasi pangan membutuhkan kerja sama lintas sektor. Karena itu, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) menggelar edukasi gizi di 18 ribu sekolah di seluruh Indonesia. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka peringatan Hari Gizi Nasional yang jatuh pada Minggu (25/1).
Wakil Ketua II Persagi, Ati Nirwanawati, mengatakan edukasi gizi penting untuk membantu anak memahami pola makan sehat dan seimbang.
Langkah ini diharapkan mampu membentuk kebiasaan makan yang baik, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
“Kami melakukan edukasi gizi di 18 ribu sekolah tentang pemenuhan gizi seimbang buat anak-anak. Kami, Persagi, mendukung program MBG dengan melaksanakan pendidikan gizi melalui menu yang diberikan setiap harinya,”Ucap Ati.
Menurut dia, perubahan pola makan dan gaya hidup menjadi tantangan utama saat ini. Selain itu, konsumsi makanan cepat saji yang tinggi gula, garam, dan lemak dinilai berpotensi memicu masalah gizi hingga kelebihan berat badan.
Ati menilai, edukasi gizi menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konsumsi makanan sehat berbasis pangan lokal.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang.Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan, edukasi harus berjalan seiring dengan intervensi pemerintah.
Salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar anak sekolah dan kelompok rentan.
“Karena mereka sebagian besar lahir dari orang tua yang pendidikan rata-rata hanya 9 tahun dan pendapatan rata-rata hanya 1,5 juta. Sehingga mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk kebutuhan gizi ini,”Ucap Dadan.
Sinergi antara edukasi dan intervensi diharapkan mampu mempercepat penurunan angka stunting. Upaya ini sekaligus membentuk generasi sehat dan produktif menuju Indonesia Emas 2045. [JC/RED]
